Siapa yang Mengatakan Bahwa Setiap Bid'ah Adalah Sesat?

 Pengaruh Adab yang Baik dalam Berdakwah




📚

💡Jika kita berpikir jernih, siapa sebenarnya yang pertama kali mengajarkan “Wa Kullu Bid’atin Dhalalah Wa Kullu Dhalalatin Finnar”?

💎 Ya, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliaulah yang bersabda,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah pentunjuknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 11 dari sahabat Jabir bin Abdulah radhiallahu anhu)

🔸 Dalam riwayat lain,

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah pentunjuknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan (tempatnya) di neraka.” (HR. an-Nasai no. 188 dari sahabat Jabir bin Abdulah radhiallahu anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasai no. 1578)

📄 Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas, banyak sekali disebutkan dalam kitab-kitab ulama. Sekadar contoh:

📖 Musnad Ahmad 237, 373, 375, 408
📖 Sunan Abu Dawud 12
📖 Sunan Ibnu Majah 71, 73, 74
📖 Sunan ad-Darimi 228, 289, 426, 506, dan masih banyak lagi.

🌏 https://asysyariah.com/benarkah-naik-mobil-adalah-bidah/

0/Post a Comment/Comments

Advertisement

 Sumber:

sunnah.me, archive,google drive dll

-------------------------------------------------------------

Al Fudlail bin Iyyadl berkata :

“Saya telah mendapatkan bahwa sebaik-baik manusia seluruhnya adalah Ahli Sunnah dan mereka senantiasa melarang bergaul dengan ahli bid’ah.” (Al Lalikai 1/138 nomor 267)